“Mencegah lebih baik daripada mengobati” itulah pepatah yang jadi dasar penulisan tips kali ini. Virus adalah suatu program yang apabila dijalankan (dieksekusi) dapat mengganggu sistem komputer. Kita tidak usah takut tetapi tetap harus waspada. Karena virus mempunyai tingkat penyerangan yang berbeda dan damage yang dihasilkan juga akan berbeda. Lalu bagaimana solusinya? Bagi yang awam dengan dunia per-virusan lebih baik installkan antivirus untuk menangkal serangan virus yang masuk dari berbagai sektor. Hanya saja antivirus tersebut harus terus di-update supaya bisa membasmi virus-virus dari varian baru. Nah bagi anda yang tidak mau repot-repot update antivirus atau komputer anda tidak mau diberatkan dengan program antivirus, bisa memikirkan untuk mencoba solusi yang saya berikan.

Matikan Autorun

Virus bisa masuk ke sebuah sistem dengan dua cara yaitu di eksekusi secara manual (oleh manusia) atau otomatis. Nah bagaimana agar virus tersebut tidak otomatis mengeksekusi dirinya? Caranya matikan fitur autorun pada system. Mengapa, karena virus biasanya datang dari jaringan dan media penyimpanan, sedangkan media penyimpanan setelah dimasukkan ke dalam komputer akan melakukan autorun, nah fitur autorun tidak sengaja membangunkan virus untuk masuk ke sistem. Cara untuk mematikan fitur autorun adalah sbb :

1. Klick Start | Run. Ketikan “gpedit.msc”. Klick OK.

2. Klick folder Administrative Templates yang terdapat pada User Configuration, lalu buka folder System, klick kanan pada Turn off Autoplay pilih properties.

3. Setelah masuk pada jendela properties pilh enabled, terus pada Turn off Autoplay on : pilih All Drive. Klick OK.

Mengidentifikasi Suatu file

Kita telah meminimalisir peluang eksekusi otomatis pada virus dengan mematikan fitur autorun. Nah selanjutnya meminimalisir peluang eksekusi virus secara manual dengan memberikan pengetahuan pada user tentang perbedaan file virus dan file non virus.

Sebelumnya saya akan memperingatkan “Hati-hati! Rasa penasaran dapat membunuh anda”. Pembuat virus tidak akan terang-terangan menamakan virusnya dengan nama “virus”. Anda jangan tanya kenapa, karena saya yakin anda tahu jawabannya. Biasanya para pembuat virus akan memberikan nama virusnya yang dapat mengundang rasa penasaran user sehingga user akan mengeksekusi file tersebut dan virus masuk ke sistem. Seperti “japanese_girl”, “video_anak_SMA”, “data user”, dll. Selain dari nama, trik prikologis ini juga memakai ikon untuk mengelabui user. Jarang virus yang menggunakan ikon asli dari suatu aplikasi, tetapi virus biasanya menggunakan ikon-ikon lain seperti ikon folder, image, mp3, video, dll. Lalu bagaimana membedakan virus dengan yang bukan virus bila ikonnya sama? Jawabannya mudah, kita bisa lihat hanya dari extension-nya atau format-nya. Biasanya virus itu apapun ikon dan namanya selalu mempunyai format .exe atau .vbs, atau file type-nya application. Kalau anda menemukan file-file seperti itu dengan nama dan ikon yang mencurigakan, langsung delete dan jangan pakai kompromi lagi dengan menggunakan kombinasi tombol Shift+Delete.

Rajin Membuat Restore Point

System Restore adalah fitur yang dimiliki sistem operasi Windows untuk mengembalikan ke dalam setingan awal. Oleh karena itu kita harus rajin-rajin membuat restore point yang ada di System Restore, agar apabila komputer kita tidak sengaja terinfeksi virus kita bisa me-restore sistemnya ke dalam setingan sebelum terinfeksi virus. Cara mengakses System Restore, klick Start | All Programs | Accesories | System Tools |System Restore.